Akhir bulan Januari
ditandai dengan pengalaman sakit bagi Rio. Pada hari Jumat siang (27/1),
temperatur tubuh tiba-tiba meninggi. Akhirnya, Rio pun dijemput oleh Mama dari
sekolah. Lebih dari 24 jam kemudian, temperatur tinggi tetap tidak mau pergi.
Obat penurun panas Sanmol tampaknya tidak manjur. Obat batuk hitam (OBH), yang
di dalamnya ada unsur parasetamolnya, juga tidak mempan. Hanya ada satu pilihan
tersisa: Rio harus dibawa ke dokter Tintin di Panti Rapih. Ramuan puyer sejauh
ini bisa mengatasi sakit macam ini. Jadilah keputusan itu diambil. Sehabis berobat pada hari Sabtu (28/1),
obat-obatan non-generik pun diperoleh. Memang benar, temperatur tubuh menurun
setelah konsumsi obat-obatan itu. Namun proses pemulihan tidaklah cepat. Tiga
hari berlalu, tenggorokan tampaknya masih terasa gatal, batuk pun masih belum
kunjung pergi.
Satu hal pasti yang
hilang sewaktu sakit mendera adalah kesempatan untuk bermain dan belajar. Tubuh
terasa lemah, semangat seakan terkikis habis. Kalau dalam keadaan sehat,
belajar musik bisa berlangsung tiga sampai empat jam per harinya, sekarang,
kesempatan itu hilang.
Kira-kira, apa tanggapan akan hilangnya kesempatan
belajar itu? Apakah Rio akan segera kembali belajar kalau sudah sembuh?
Silahkan Rio menanggapinya:
Ya, Rio akan belajar kalau sudah sembuh. Tetapi, Rio harus menunggu sampai batuk pergi. Akhir bulan Januari dialami oleh Rio dengan pengalaman sakit. Lalu, diberi obat Sanmol dan OBH. Tetapi panasnya tidak berkunjung sembuh. Lalu Rio diantar Bapak dan Mama kerumah sakit untuk berobat. Lalu setelah itu panasnya turun Itulah yang Rio alami. Memang walaupun kita sakit, kita harus mencoba kegiatan yang kita tinggalkan saat sakit. Lalu, pada waktunya melakukan kegiatan itu, kita tinggal enak. Tidak ada beban dan tidak ada kemalasan. Sakit itu, jenisnya ada yang parah dan ada yang tidak parah. Karena sakit itu, akibatnya adalah kehilangan 10 jam. Akibatnya, tangan Rio jadi mengurang kelincahan bermain biola. Tetapi, itu hanya untuk sementara. Sebagiannya akan lincah seperti dulu sebelum sakit. Tetapi juga ada yang mengatasi sebuah sakit. Seperti obat OBH dan Sanmol tadi. Tetapi, karena batuk dan panasnya sudah terlampaui dari kesehatan normal, maka, kesempatan lainnya adalah membawa ke Panti Rapih dan membeli Curvit, Sirup Imbost, Puyer dan obat panas yang bungkusnya berwarna ijo. Apakah bapak setuju dengan kata-kataku ini??
Silahkan Bapak menanggapi:
Setuju. Benar bahwa selama sakit, dan terutama ketika batuknya belum benar-benar pergi, kemampuan kita untuk berlatih menjadi berkurang. Tubuh terasa tidak segar. Setelah tiga hari tidak berlatih, jari-jari pun tidak lagi lincah memainkan nada-nada pada biola. Rio benar bahwa keadaan semacam ini hanyalah sementara. Ketika kesehatan datang, kita akan kembali lagi belajar lagi. Target kita selanjutnya adalah Minuet dari Boccherini (lagu terakhir dalam buku Suzuki Volume II). Bapak yakin, ketika Rio dalam keadaan sehat, lagu ini tidak terlalu sulit untuk dikuasai. Tentu saja, akan butuh waktu untuk benar-benar menghaluskannya. Seperti halnya ketika Rio berusaha menyelesaikan buku Suzuki Volume I, penguasaan 14 lagu bisa dilakukan hanya dalam waktu dua minggu. Namun, dibutuhkan latihan berulang-ulang, dilengkapi dengan sikap tenang dan penuh semangat, selama dua sampai empat jam tiap harinya. Sikap dasar macam ini lah yang sangat penting. Sikap dasar penuh kesungguhan macam ini lah yang mengantarkan kita pada suatu kualitas yang tinggi. Kita juga beruntung telah menemukan berbagai sumber belajar, seperti video-video dari youtube. Ketika kita menonton berbagai macam tutorial yang mengajarkan cara-cara berlatih biola macam itu, pengetahuan kita menjadi semakin kaya. Bahkan, tanpa kehadiran pelatih khususpun, kita bisa belajar dan melatih diri. Semoga Rio semakin sehat dan kembali memupuk semangat untuk segera berlatih.
Satu hal yang harus dicatat: kesehatan erat kaitannya dengan makanan yang kita makan. Tampaknya, Rio pun mesti lebih bersemangat untuk makan agar cepat sembuh.
Begitulah tanggapan dari Bapak. Apakah Rio masih mau menanggapinya?
Ya. Tetapi kok baru belajar yang lagu ketiga dari Suzuki Volume II kok sudah loncat yang terakhir? Itulah kebiasaan Bapak dan Rio dulu. Makanya walaupun baru belajar Hunter's Chorus, tetapi malah yang terakhir yaitu Minuet in L atau Minuet dari Boccherini. Ya, betul bapak. Pasti kalau Rio sehat akan cepat lancarnya. Tetapi harus membutuhkan waktu banyak untuk menghaluskan lagu itu. Semangat pun perlu. Karena, kalau belum semangat tidak jadi-jadi lagu. Karena itu sudah tingkat atas dan lagu yang terakhir dari buku ke dua. Pasti baik juga kalau mengandalkan target. Walaupun jari-jari tidak lincah, tetapi harus tetap mencoba-coba. Suzuki Volume I saja 14 lagu diselesaikan 2 minggu. tetapi, biasanya kalau lagu kedua biasanya lebih sulit, dan lama mempelajarinya. Maka, kita harus tetap belajar sungguh-sungguh. Tetapi juga tidak lupa pelajaran sekolah lho. Kalau lupa pelajaran sekolah, pasti tetap bodoh. Namun kalau mau pinter biola, harus latihan terus-menerus dan tidak frustrasi.
Tanggapan bapak:
Latihan bermusik dengan Bapak tidak berarti menghilangkan kebiasaan belajar pelajaran sekolah. Belajar pelajaran sekolah, belajar musik, dan belajar membaca serta menulis akan berjalan bersama-sama. Dengan kebiasaan menulis bersama (co-authoring) macam ini, Rio pun berlatih keterampilan membaca-menulis dengan cara yang tidak biasa. Kegiatan ini menjadi bermakna atau berarti, karena kita mengangkat kehidupan kita sehari-hari. Pada waktu yang sama, kita merenungkan apa yang kita alami. Kita menuliskan mimpi-mimpi kita. Kita membagikan semangat kita. Semoga ini semua senantiasa menjadi sumber kekuatan. Ke depannya, kalau kita tetap menulis, membaca, belajar, dan berbagi, kita akan menjadi lebih siap dalam menghadapi berbagai kesulitan.