Selasa, 31 Januari 2012

Gara-gara sakit, hilanglah 10 jam kesempatan belajar!


Akhir bulan Januari ditandai dengan pengalaman sakit bagi Rio. Pada hari Jumat siang (27/1), temperatur tubuh tiba-tiba meninggi. Akhirnya, Rio pun dijemput oleh Mama dari sekolah. Lebih dari 24 jam kemudian, temperatur tinggi tetap tidak mau pergi. Obat penurun panas Sanmol tampaknya tidak manjur. Obat batuk hitam (OBH), yang di dalamnya ada unsur parasetamolnya, juga tidak mempan. Hanya ada satu pilihan tersisa: Rio harus dibawa ke dokter Tintin di Panti Rapih. Ramuan puyer sejauh ini bisa mengatasi sakit macam ini. Jadilah keputusan itu diambil.  Sehabis berobat pada hari Sabtu (28/1), obat-obatan non-generik pun diperoleh. Memang benar, temperatur tubuh menurun setelah konsumsi obat-obatan itu. Namun proses pemulihan tidaklah cepat. Tiga hari berlalu, tenggorokan tampaknya masih terasa gatal, batuk pun masih belum kunjung pergi.

Satu hal pasti yang hilang sewaktu sakit mendera adalah kesempatan untuk bermain dan belajar. Tubuh terasa lemah, semangat seakan terkikis habis. Kalau dalam keadaan sehat, belajar musik bisa berlangsung tiga sampai empat jam per harinya, sekarang, kesempatan itu hilang. 

Kira-kira, apa tanggapan akan hilangnya kesempatan belajar itu? Apakah Rio akan segera kembali belajar kalau sudah sembuh? 

Silahkan Rio menanggapinya: 

Ya, Rio akan belajar kalau sudah sembuh. Tetapi, Rio harus menunggu sampai batuk pergi. Akhir bulan Januari dialami oleh Rio dengan pengalaman sakit. Lalu, diberi obat Sanmol dan OBH. Tetapi panasnya tidak berkunjung sembuh. Lalu Rio diantar Bapak dan Mama kerumah sakit untuk berobat. Lalu setelah itu panasnya turun Itulah yang Rio alami. Memang walaupun kita sakit, kita harus mencoba kegiatan yang kita tinggalkan saat sakit. Lalu, pada waktunya melakukan kegiatan itu, kita tinggal enak. Tidak ada beban dan tidak ada kemalasan. Sakit itu, jenisnya ada yang parah dan ada yang tidak parah. Karena sakit itu, akibatnya adalah kehilangan 10 jam. Akibatnya, tangan Rio jadi mengurang kelincahan bermain biola. Tetapi, itu hanya untuk sementara. Sebagiannya akan lincah seperti dulu sebelum sakit. Tetapi juga ada yang mengatasi sebuah sakit. Seperti obat OBH dan Sanmol tadi. Tetapi, karena batuk dan panasnya sudah terlampaui dari kesehatan normal, maka, kesempatan lainnya adalah membawa ke Panti Rapih dan membeli Curvit, Sirup Imbost, Puyer dan obat panas yang bungkusnya berwarna ijo. Apakah bapak setuju dengan kata-kataku ini??

Silahkan Bapak menanggapi:

Setuju. Benar bahwa selama sakit, dan terutama ketika batuknya belum benar-benar pergi, kemampuan kita untuk berlatih menjadi berkurang. Tubuh terasa tidak segar. Setelah tiga hari tidak berlatih, jari-jari pun tidak lagi lincah memainkan nada-nada pada biola. Rio benar bahwa keadaan semacam ini hanyalah sementara. Ketika kesehatan datang, kita akan kembali lagi belajar lagi. Target kita selanjutnya adalah Minuet dari Boccherini (lagu terakhir dalam buku Suzuki Volume II). Bapak yakin, ketika Rio dalam keadaan sehat, lagu ini tidak terlalu sulit untuk dikuasai. Tentu saja, akan butuh waktu untuk benar-benar menghaluskannya. Seperti halnya ketika Rio berusaha menyelesaikan buku Suzuki Volume I, penguasaan 14 lagu bisa dilakukan hanya dalam waktu dua minggu. Namun, dibutuhkan latihan berulang-ulang, dilengkapi dengan sikap tenang dan penuh semangat, selama dua sampai empat jam tiap harinya. Sikap dasar macam ini lah yang sangat penting. Sikap dasar penuh kesungguhan macam ini lah yang mengantarkan kita pada suatu kualitas yang tinggi. Kita juga beruntung telah menemukan berbagai sumber belajar, seperti video-video dari youtube. Ketika kita menonton berbagai macam tutorial yang mengajarkan cara-cara berlatih biola macam itu, pengetahuan kita menjadi semakin kaya. Bahkan, tanpa kehadiran pelatih khususpun, kita bisa belajar dan melatih diri. Semoga Rio semakin sehat dan kembali memupuk semangat untuk segera berlatih. 

Satu hal yang harus dicatat: kesehatan erat kaitannya dengan makanan yang kita makan. Tampaknya, Rio pun mesti lebih bersemangat untuk makan agar cepat sembuh. 

Begitulah tanggapan dari Bapak. Apakah Rio masih mau menanggapinya? 

Ya. Tetapi kok baru belajar yang lagu ketiga dari Suzuki Volume II kok sudah loncat yang terakhir? Itulah kebiasaan Bapak dan Rio dulu. Makanya walaupun baru belajar Hunter's Chorus, tetapi malah yang terakhir yaitu Minuet in L atau Minuet dari Boccherini. Ya, betul bapak. Pasti kalau Rio sehat akan cepat lancarnya. Tetapi harus membutuhkan waktu banyak untuk menghaluskan lagu itu. Semangat pun perlu. Karena, kalau belum semangat tidak jadi-jadi lagu. Karena itu sudah tingkat atas dan lagu yang terakhir dari buku ke dua. Pasti baik juga kalau mengandalkan target. Walaupun jari-jari tidak lincah, tetapi harus tetap mencoba-coba. Suzuki Volume I saja 14 lagu diselesaikan 2 minggu. tetapi, biasanya kalau lagu kedua biasanya lebih sulit, dan lama mempelajarinya. Maka, kita harus tetap belajar sungguh-sungguh. Tetapi juga tidak lupa pelajaran sekolah lho. Kalau lupa pelajaran sekolah, pasti tetap bodoh. Namun kalau mau pinter biola, harus latihan terus-menerus dan tidak frustrasi. 


Tanggapan bapak: 

Latihan bermusik dengan Bapak tidak berarti menghilangkan kebiasaan belajar pelajaran sekolah. Belajar pelajaran sekolah, belajar musik, dan belajar membaca serta menulis akan berjalan bersama-sama. Dengan kebiasaan menulis bersama (co-authoring) macam ini, Rio pun berlatih keterampilan membaca-menulis dengan cara yang tidak biasa. Kegiatan ini menjadi bermakna atau berarti, karena kita mengangkat kehidupan kita sehari-hari. Pada waktu yang sama, kita merenungkan apa yang kita alami. Kita menuliskan mimpi-mimpi kita. Kita membagikan semangat kita. Semoga ini semua senantiasa menjadi sumber kekuatan. Ke depannya, kalau kita tetap menulis, membaca, belajar, dan berbagi, kita akan menjadi lebih siap dalam menghadapi berbagai kesulitan. 







Senin, 30 Januari 2012

Salam perkenalan, 


Tahun 2012 telah berusia satu bulan. Pergantian bulan dari Januari ke Februari tampaknya akan menandai satu hal lain bagi Rio. Kini waktunya bagi Rio untuk mengembangkan sayap, tentu untuk terbang lebih tinggi lagi. Tentu saja, mengembangkan sayap dan terbang dalam hal ini tidak dalam pengertian harafiah. Semuanya mengacu pada konsep belajar. Sejauh ini, proses belajar lebih banyak bersifat offline. Artinya, kegiatan membaca dan menulis lebih banyak dilakukan pada objek berupa buku atau kertas. Kali ini ada perubahan sedikit. Perubahan itu dalam bentuk media baca dan tulis yang lebih banyak dilakukan secara online. Semoga ini akan menjadi pengalaman pertama yang menarik dan menantang untuk ke depannya. Diharapkan, Rio akan sering menuliskan pengalaman dalam hidup kesehariannya di blog ini. 

Salam,
MB

Silahkan Rio sendiri menanggapi.

Ya bapak benar. Pergantian dari Januari ke Februari memang diisi dengan sebuah satu hal, yaitu dengan menulis sebuah tanggapan dan cerita ke blog. Bapak sudah menamai blog itu dan sudah memberi judul. Semua itu menyenangkan. terutama, Rio juga baru pertama kali menulis di blogspot. Moga-moga, harapan bapak untuk  menjadikan blogspot itu sebagai pengalaman pertama yang menarik dan menantang terkabul. Juga moga-moga juga, kembangan sayap itu berguna bagi Rio dan bagi bapak dan mama. Dan cerita hidup keseharian Rio dapat bertumpuk banyak, lebih banyak daripada yang dibayangkan.


Salam,
Joserio.C.V

Silahkan bapak sendiri menanggapi

Sangat senang membaca apa yang dituliskan oleh Rio. Rio berani menerima tantangan untuk belajar pada tingkat yang lebih tinggi. Ketika Rio sepakat untuk menulis di blog macam ini, tentu ada konsekuensinya. Mau tidak mau, kita harus berani lebih sering menulis. Menulis apa? Tentu menulis apa saja yang baik dan membuat kita menjadi lebih baik. Salah satu pintu masuknya adalah menuliskan pengalaman sehari-hari. Menuliskan pengalaman sehari-hari merupakan salah satu cara yang paling kuat untuk melatih keterampilan menulis dan berpikir kritis. Ketika kita menuliskan pengalaman kita, kita memikirkan kembali makna pengalaman itu. Itu artinya kita berusaha memberi arti dari pengalaman kita. Itu artinya bahwa kita juga mencoba menikmati baik pengalaman baik atau buruk. Itu artinya kita akan menjadi manusia yang selalu memperhitungkan berbagai hal di sekitar kita. Itu artinya kita tidak terjebak ke dalam sikap reaktif. Kita akan memikirkan, merenungkan, dan membagikan pengalaman kita kepada orang lain. 




Salam,
MB

Silahkan Rio sendiri yang menanggapi

Ya, betul sekali tulisan bapak. Kita akan memikirkan, merenungkan, dan membagikan pengalaman kita kepada orang lain dengan cara menulis kehidupan sehari-hari dan menyerahkan tulisan itu kepada orang lain. Seperti menulis di blog ini. Walaupun tulisan kita kelihatan jelek, walaupun tulisan kita dianggap tidak bagus, kita harus tetap menulis. Karena kita mau tidak mau, harus menulis. Tidak hanya menulis, tetapi juga membaca. Karena, membaca meningkatkan pikiran. Semuanya adalah hal baik. Maka, dari sekarang, kita harus rajin menulis, selain itu juga membaca. Menulis membutuhkan banyak kata. bahkan ada yang lebih dari 90 kata. Karena ada seorang penulis, maka, kita tidak perlu menulis setiap bulan. Setiap hari sudah cukup. Makanya, kita harus tetap menaikkan keterampilan menulis, dan keterampilan membaca.

Salam
Joserio.C.V